Prinsip Pembuatan Proposal Web Design

Sedikit share nih, tentang membuat proposal dan prinsip yang dapat dijadikan acuan saat pembuatan proposal pada pengembangan web design. Pengalaman sendiri sih, kebanyakan web designer menggunakan template proposal yang salah. Faktanya, dari “proposal” yang telah di buat oleh seorang web designer tidak sepenuhnya membuat sebuah proposal yang benar, itu lah letak kesalahannya. 😀

Dari beberapa referensi dan informasi yang saya kumpulkan, tidak bisa dipungkiri saat pembuatan proposal yang asal-asalan akan berdampak pada persentasi harga dan penjualan dari proyek yang kita kembangakan. Dengan sebuah template proposal yang benar dan juga menjelaskan bahwa kita tahu apa yang dibutukan oleh klien maka secara tidak langsung kita telah menjelaskan bahwa kita adalah orang yang tepat untuk proyek tersebut.

Apple Keyboard
Apple Keyboard

Dari survei yang dilakukan oleh bidsketch.com, di dapatkan bahwa proposal yang menggunakan template akan mencapai 43% diterima. Diambil dari referensi bidsketch, kita harus memasukan 5 elemen penting ini kedalam proposal:

  1. Demonstrasikan masalah yang Anda pahami dengan sebuah Problem Statement.
  2. Jelaskan solusi yang Anda rekomendasikan
  3. Jelaskan benefit dari solusi yang Anda berikan
  4. Jelaskan anggaran project
  5. Akhiri dengan call & action untuk pembelian.

    Infographic_what's-inside
    Five element proposal

Proposal harus selalu menggunakan 5 elemen tersebut, mari kita lihat lebih detail apa saja tujuan 5 elemen tersebut:

1. Problem Statement

Sebelum kita bisa menulis sebuah Problem Statement (pernyataan masalah) yang baik, kita harus mengerti masalah yang akan dihadapi kedepannya.

Di contohkan pada sebuah instansi, katakanlah sebuah tempat cuci mobil ingin membuat sebuah website baru. Tentu hal itu akan mudah bagi seorang web designer untuk menjelaskan masalah yang di hadapi klien, seperti website terlihat sangat kuno. Berikut kita contoh pada 2 orang web designer, @web designer #1:

Web Designer #1 mungkin menulis Problem Statement nya seperti ini:

Anto Cuci Mobil  membutuhkan tampilan baru untuk websitenya, termasuk mendesign ulang website dan logo baru.

Nah, ketika web designer mengasumsikan masalah yang dia tahu, sebenarnya itulah letak kesalahannya. Untungnya, ada cara yang lebih pasti untuk mengetahui apa sebenarnya yang jadi permasalahaanya, yaitu dengan hanya meminta klien untuk menjelaskan apa masalah mereka.

Detelah kita tahu apa masalah mereka, kita dapat menuliskan Problem Statement yang menunjukkan pemahaman dengan menunjukkan kepercayaan mereka. Dengan pendekatan diatas, berikut dicontohkan lagi pada seorang web designer #2 yang meminta pada mereka apa masalah yang mereka hadapi.

Dan ternyata masalah terbesarnya adalah bahwa pelanggan kesulitan menemukan tempat pencucian mobil di pinggir jalan.

Web designer #2 menulis Problem Statement nya berikut:

Anto Cuci Mobil membutuhkan sebuah website yang membantu pelanggannya untuk mengantarkan pelanggan ke sebuah tempat pencucian mobil, dimana pelanggan melihatnya melalui website dari deskop computer atau mobile device.

Nah asumsikan Anda lah pemilik car wash tersebut, setelah melihat dua Problem Statement diatas mana yang akan Anda pilih ?

Note: Jika Anda menulis Problem Statement yang menunjukkan kita mengerti masalah yang merekan alami, maka kita akan mendapat kepercayaan mereka.

 

2. Recommended Solution

Setelah kita mengerti permasalahannya, selanjutnya untuk memikirkan solusinya.

Tapi jika kita menjelaskan solusi kita dengan bahasa kita sendiri, pelanggan kemungkinan akan mengantuk. Berikut contohnya:

A’comp akan membuat sebuah intranet baru pada perusahan untuk meningkatkan sinergi antar departemen dan memungkinkan pembuatan sistem manajemen di seluruh perusahaan. Intranet ini akan tercapai melalui: (1) direktori karyawan, (2) sebuah blog untuk pengumuman internal perusahaan (3) fasilitas survei karyawan yang komprehensif. 

Terdapat dua masalah besar pada Recomended Solution seperti diatas. Pertama, pelanggan tidak mengerti jargon kita. Dan kedua, pelanggan tidak perduli tentang teknologi yang kita gunakan, mereka hanya perduli dengan hasilnya.

Jadi apa yang harus dilakukan ?

Gunakan bahasa pelanggan !!.

Untuk melakukannya, ambil catatan dan catat pembicaraan tentang prospek kita dengan pelanggan. Contohnya:

  • Q: Kenapa Anda mengingikan pembuatan portal perusahaan baru ?
  • A: Kami ingin memajukan komunikasi internal
  • Q: Ah, OK. Bisakah Anda ceritakan tentang beberapa masalah spesifik yang Anda lihat dari kurangya komunikasi ?
  • A: Tentu. Setiap tahun dari survei karyawan kami, komunikasi adalah salah satu keluhan terbesar. Karyawan mengatakan bahwa kita tidak mendengarkan keprihatinan dan saran tentang cara untuk meningkatkan perusahaan. Juga …

Kita bisa dengan mudah menuliskan permasalah pelanggan di proposal kita:

Setiap tahun, survei karyawan menunjukkan bahwa karyawan merasa manajemen tidak mendengarkan keprihatinan dan saran tentang cara untuk meningkatkan perusahaan. Portal perusahaan baru akan mengubah persepsi itu. Portal ini akan …

Faktanya, kebanyakan orang akan senang mendengar sendiri kutipan tentang mereka diucapkan kembali. Dan dengan menggunakan bahasa mereka, kita membuat empati dan kepercayaan dengan cara kita sendiri.

 

3. Benefit

Bagian paling berguna yang perlu kita tahu adalah jual, jual, dan jual *padang tag line :D.

Tapi sayangnya, banyak web designer menulis konten generiknya dari copy paste beberapa template yang ada.

Sebagai contoh, katakanlah ada sebuah website resep meminta kita untuk meningkatan SEO webiste mereka di Google. Kebanyakan penulis akan mengambil ini sebagai kesempatan untuk copy dan paste tentang “Bagaimana SEO Dapat Meningkatkan Pendapatan.”

Kita mungkin berpikir ini akan menghemat waktu, tapi konten yang sudah basi itu adalah kiss of death. Penelitian bidsketch.com menunjukkan proposal terbaik adalah konten yang masih segar 50-80%. Menuliskan konten yang segar  menjelaskan secara spesifik bagaimana kita akan membantu klien.

Sebagai contoh, inilah salah satu cara kita bisa menulis bagian Manfaat dari sebuah situs resep:

Menurut laporan Google Analytics, Resep Bakso sudah mendapatkan 100 kunjungan per bulan dari pengunjung yang mencari “resep bakso pedas.” Situs Anda peringkat # 12 untuk kata kunci, yang berarti Anda berada di halaman kedua di Google. Kami memperkirakan bahwa # 10 hasil mendapatkan 1.000 kunjungan per bulan. Jadi, jika melakukan sedikit perbaikan untuk peringkat # 10 pada “resep bakso pedas” akan menjadi 10x peningkatan lalu lintas untuk kata kunci tersebut.

 

4. Project Fees

bidsketch.com mengetahui perbedaan antara perkiraan dan proposal. Untuk rekap, perkiraannya akan terfokus pada harga, atau apa yang telah selesai dikerjakan dan mengetahui berapa banyak biayanya. Tentu saja proposal akan termasuk bagian Biaya Proyek, tapi ada cara yang benar dan cara yang salah untuk menulis itu.

Mari kita lihat contoh cara yang salah untuk menulis bagian Biaya Proyek:

  1. Pemasangan WordPress Rp. 500.000
  2. Pembelian custom theme Rp. 50.000
  3. Kustomisasi dari custom theme Rp 250.000
  4. Pembuatan 17 halaman WordPress Rp. 500.000
  5. Optimasi SEO Rp. 300.000
    Total biaya Rp 1.600.000

Apakah  terlihat masalah di sini?

Ini hanya daftar layanan dan biaya, tapi sebenanya itu termasuk jargon umum yang menyatakan bahwa klien tidak akan mengerti dari data diatas.

Oleh karena itu, kembali ke masalah klien dan jawab pertanyaan ini:

berapa banyak biaya untuk memecahkan Masalah?

Untuk melakukan itu, hubungkan biaya dan solusi yang kita rekomendasikan, dan untuk menjaga hal itu agar tetap mudah dimengerti. Berikut adalah caranya, tentu masih menggunakan contoh sebelumnya:

  1. Membuat website dengan custom theme Rp. 800.000
  2. Menulis konten pada situs Rp 500.000
  3. Layanan SEO Rp. 300.000
    Total biaya Rp 1.600.000

Klien sebenarnya tidak ingin daftar rinci dari setiap biaya, mereka hanya ingin tahu berapa banyak biaya untuk memecahkan masalah mereka.

 

5. Call to Action

Oke, jadi kita telah menulis sebuah proposal penjualan yang menguraikan masalah, solusi, manfaat, dan harga.

Apakah ini sudah siap ?

Belum!

Klien masih harus mengambil tindakan untuk menyetujui proyek ini. Karena kebanyakan proyek terlantar, untuk itu jangan hanya menyerah dan berharap mereka akan menelepon.

Sebaliknya,  “ajak mereka untuk bertindak” membiarkan klien tahu persis apa yang harus mereka lakukan untuk memulai proyek.

Rahasia yang perlu diketahui tentang klien adalah : “klien itu pemalas”.

OK, mungkin Anda sudah tahu itu. Tapi apakah kita harus benar-benar menghargai betapa malasnya mereka?

Percaya atau tidak, kita cenderung  memberikan terlalu banyak imajinasi. Dalam dunia yang sempurna dari imajinasi kita, klien membaca usulan mengagumkan yang kita ajukan, yakin bahwa kita dapat memecahkan masalah mereka, dan segera mengangkat telepon dengan semangat untuk menyetujui proposal Anda.

Expectation vs Reality
Expectation vs Reality

Dalam dunia nyata, klien akan membaca usulan mengagumkan kita dan yakin. Tapi oops! Mereka lupa untuk segera menghubungi. Mereka tentu tidak akan mencetak proposal kita, menandatanganinya, fax kembali, dan mengirimkan kita cek.

Dan ketika kita menelepon atau email beberapa hari kemudian, mereka sudah lupa bagaimana awesomenya proposal yang telah di ajukan. Mereka tidak akan bersemangat seperti sebelumnya …

Jadi bagaimana ?

Gunakan 1-Click call untuk bertindak dalam proposal yang kita ajukan. Yang harus di lakukan adalah meninggalkan dunia manual untuk pembuatan proposal dengan kertas dan PDF,  beralihlah menggunakan proposal online. Kemudian kita akan mendapat panggilan untuk tindakan pada proposal hanya dengan membuat sebuah tombol besar pada website yang tujuannnya untuk menerima proposal.

Ini terdengar seperti hal yang kecil untuk dilakukan. Kita mungkin berpikir bahwa hal itu tidak akan berdampak besar …

Wait…sebenarnya, ini memiliki dampak besar.

Penelitian bidsketch.com menunjukkan bahwa proposal secara online diterima 60% lebih cepat dari proposal tradisional, dan 18%  lainnya lebih mungkin diterima.

Online Proposal
Online Proposal

Mengapa ini bisa berjalan dengan semestinya?

Ada dua alasan.

Pertama, dengan persetujuan lewat online, klien kita tidak perlu untuk mencetak, menandatangani, memindai, dan email atau faks proposal kita dan kemudian  mengembalikannya. Semuanya online, di satu tempat, dan sederhana untuk dieksekusi.

Kedua, dan yang lebih penting, dengan membuat langkah berikutnya dengan sekali klik, kita mengubah kemalasan klien menjadi prospek senjata rahasia Kita. Kita akan benar-benar membuatnya lebih mudah untuk diterima

Semoga bermanfaat ! 🙂

Iklan

Good People write good comments ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s