Titip Rindu Buat Ayah

Kesedihan adalah sesuatu yang sering kita tambahkan ke dalam kehilangan. Ini merupakan respon yang dapat kita pelajari. Hal ini bukannya tidak terhindarkan, tapi sering dilakukan.

Cover Gone

Keikhlasan mengajarkan saya bahwa ada alternatif lain dari kesedihan. Bukan berarti bersedih itu salah, hanya saja ada cara lain. Kehilangan orang yang kita sayangi bisa dipandang dengan cara lain, cara yang menghindari kepedihan berkepanjangan. Ayah saya sendiri meninggal 45 hari yang lalu.  Bagi saya, dia adalah orang yang hebat. Dialah yang telah menolong saya  menemukan arti cinta dan kehidupan dengan kata-katanya, “Apa pun yang kamu lakukan dalam hidup ini, itu semua hanya sementara.”  Walaupun saya sangat mencintainya, saya tidak pernah menangis pada acara pemakamannya. Juga tidak sesudahnya. Saya tidak pernah merasa  ingin menangis atas kematiannya yang dini. Perlu beberapa minggu bagi saya untuk memahami keadaan emosi saya seputar kematiannya. Saya menyadarinya melalui cerita berikut, yang saya bagikan kepada Anda di sini.

Sebagai anak muda, saya menikmati musik, segala macam musik mulai dari rock sampai akustik. Cumateh adalah kampung kecil yang asik untuk ditinggali, saya ingat saat kecil dulu sering bermain gitar dengan ayah saya di teras rumah. Saya punya begitu banyak kenangan berharga akan nuansa musik di rumah pada masa itu. Ada banyak lagu-lagu khas yang selalu saya ingat, lagu yang paling sering di bawakan ialah Ebiet G. Ade.

Pada penghujung lagu, saya akan berteriak, “Lagi! Lagi!”  bersama dengan ibu dan juga kakak dan adik. Biasanya, ayah akan bermain lagi selama beberapa saat. Namun akhirnya, harus berhenti juga, mengemasi peralatan dan istirahat. Demikian pula saya. Dalam kenangan saya, sepertinya setiap kali kami berkumpul untuk bernyanyi bersama dengan gitar kesayangan, selalu hujan. Ada sebuah kata khusus untuk menggambarkan jenis hujan rintik-rintik yang biasanya terjadi, yaitu “gerimis”. Sepertinya selalu gerimis, dan dingin, hingga tiba waktunya untuk istirahat.

Namun, sekalipun saya mengetahui di dalam hati bahwa kemungkinan saya akan jarang bernyanyi bersama-sama kembali saat kuliah, bahkan jika tidak sempat lagi, tidak sekali pun saya merasa sedih ataupun ingin menangis. Sewaktu saya mendengarnya bernyanyi di malam yang dingin, basah, dan gelap, musiknya selalu masih bergema di kepala saya,  Musik yang hebat! Penampilan yang gemilang! Betapa beruntungnya saya berada di sana pada saat itu!” Saya tidak pernah merasa sedih pada akhir sebuah lagu yang bagus. Tepat seperti itulah perasaan saya sepeninggal ayah saya. Seolah seperti sebuah konser hebat yang akhirnya usai.

Sebuah pertunjukan yang indah. Saya, seperti yang sudah-sudah, berteriak nyaring, “Lagi! lagi!” saat mendekati lagu kesukaan. Ayah tersayang selalu berjuang keras untuk membahagiakan kami. Tetapi saatnya tiba juga, saat dia harus  mengemasi peralatan dan pulang”. Ketika suatu malam gerimis dingin di rumah saya ingat betul gerimisnya, dalam hati saya tahu bahwa saya tidak akan bisa bersamanya lagi, dia telah meninggalkan hidup saya selamanya, namun saya tidak merasa sedih, tidak juga menangis.

MuchzisApa yang saya rasakan di hati saya adalah,  Ayah yang sungguh hebat! Hidupnya merupakan inspirasi yang luar biasa. Betapa beruntungnya saya ada di sana pada saat itu. Betapa beruntungnya saya telah menjadi puteranya.” Pada waktu saya menggenggam tangan ibu saya menuju perjalanan pulang dari pemakaman, saya merasakan kebahagiaan yang sama dengan yang sering saya rasakan seusai sebuah lagu hebat yang  pernah ayah nyanyikan. Saya tak kan pernah melupakannya. Terima kasih, Ayah.

Kesedihan hanyalah melihat apa yang telah terenggut dari kita. Perayaan hidup adalah menyadari segala berkah yang ada pada kita, dan merasa bersyukur karenanya.

Hanya dengan kado kecil ini lah yang bisa anakmu berikan di akhir perjuangan mu Ayah.

Wisuda

Iklan

2 pemikiran pada “Titip Rindu Buat Ayah

  1. Tepat ba’da Magrib, hari itu, saya mendengar berita dari Bu TR. Sayapun langsung menuju “time line” mu. Berupaya meyakinkan. Dan berita itu benar. Malamnya, saya buat ‘puisi’ sederhana ini, Sekedar membayangkan ketidak berdayaan kita akan takdirNya. Ikut berduka atas kepergian Ayahandamu, tepat menjelang acara yang ditunggu-tunggu : Wisuda.

    Puisi sederhana yang tak berhasil saya olah lagi ini, benar-benar lahir sangat sederhana. Maaf …..

    — Papyrus di Taman Jingga —

    Malam kelam,
    Iringi guguran bunga-bunga
    Langit bening mengantar catatan takdir
    Mengakhiri jalan hidup
    Siapa yang tergurat waktu

    Jika kelahiran tak pernah ada
    Maka maut tak kan pernah singgah
    Daun-daun terpekur
    Jatuh
    Dihembus angin bisu
    Bersujud di catatan waktu

    Tanah muasal kita
    Tempat kembali bunga-bunga
    Tak ada senyum
    Tak ada tawa
    Kita tengadah kibarkan duka

    Siapa masih bertanya ?

    Semesta berkisah dengan tintanya
    Yang tertulis di papyrus taman jingga
    Tak ada yang kuasa membaca
    Tidak pula suara sukma
    Alam menggenggam rahasiNya
    Di balik dingin tabir sunyi

    Siapa berhak menawar azal
    Karena tinta hitam di atas daun
    Berkisah demikian adanya

    Disukai oleh 1 orang

Good People write good comments ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s