Baik? Buruk? Siapa yang Tahu?

LifeSenja di sore ini terlihat begitu menentramkan, sehingga membangkitkan semangat saya untuk melanjutkan bacaan yang sudah lumayan lama tertinggal. Saya lupa dimana halaman terakhir yang saya baca, ah sudahlah..

sembari membalik-balikkan halaman saya pun memutuskan untuk memilih cerita singkat yang berjudul God? Bad? Who knows? Ceritanya begini,

Ada seorang raja yang begitu senang berburu. Suatu ketika saat berburu, jarinya terluka.Tabibnya yang tua merawat jari Raja itu. Raja, karena gelisah, bertanya, “bagaimana tabib, apakah jariku akan baik atau buruk?”. Tabibnya menjawab, “Good? Bad? Who knows?” (“Baik? Buruk? Siapa yang tahu?”)

Beberapa hari kemudian jari itu terinfeksi sehingga jadi bengkak. Raja kembali menemui tabibnya dengan panik, “Apa yang terjadi? Apa lukaku akan baik-baik saja?”. Tabibnya menjawab, “Good? Bad? Who knows?”.

Jelas ucapan tabibnya tidak membuat raja terkesan sama sekali. Namun ia hanya bisa mempercayai tabibnya. Beberapa hari kemudian luka itu sudah begitu parah sehingga tabib harus memotong jarinya. Amputasi!

“Baik? Buruk? Aku tahu ini buruk!!!” Raja murka dan menjebloskan tabibnya ke penjara karena tidak bisa menyelamatkan jarinya. Setelah menjebloskannya Raja berseru kepada tabibnya dalam penjara, “Nah, sekarang bagaimana perasaanmu, ha?”. Tabib menukas, “Good? Bad? Who knows?”. Raja mendengus, “Dasar tabib sinting”.

Setelah luka di jarinya sembuh, raja kembali berburu, kali ini ia mengejar buruannya makin ke peloosok rimba, terpisah dari rombongan, ia ditangkap oleh suku penghuni rimba. Mereka menangkapnya untuk dikorbankan kepada dewa-dewa mereka. Bukan kepalang takutnya Raja kita ini. Akan tetapi pada saat ketika Raja nyaris dikorbankan, mereka melihat jari tangannya kurang satu. Kepala suku rimba itu berkata, “Kami tidak bisa mengorbankan kamu, kamu tidak sempurna untuk jadi korban”. Jadi mereka melepaskannya.

Ketika Raja berhasil pulang ke kerajaannya ia berpikir, “Wow! Betapa beruntungnya aku! Jika seluruh jariku lengkap, aku pasti sudah mati.” Lalu ia menemui tabib di penjara dan berkata, “Menakjubkan! Memang aku kehilangan jariku, tapi siapa yang tahu apakah ini baik atau buruk? Dan ini baik bagiku. Terimakasih banyak. Aku membebaskanmu dari penjara”. Raja melanjutkan, “Aku menyesal telah berbuat buruk memenjara kamu”. Tabib itu menyeletuk, “Apa maksud paduka memenjarakan hamba adalah hal yang buruk? Justru bagus hamba masuk penjara! Karena kalau hamba tidak dipenjara, hamba akan ikut paduka berburu! Suku rimba akan menangkap hamba, dank arena jari hamba lengkap, hambalah yang akan dikorbankan”.

Makna kisah ini adalah … baik atau buruk siapa sih yang tahu? Anda tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

Hal yang menakjubkan dari hidup adalah hidup ini begitu tidak pasti. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Namun terhadap semua hal yang terjadi dalam hidu, kita bisa memiliki hubungan yang baik terhadapnya., ramah, menerimanya. Kita tidak menyalahkan kehidupan, marah atau sedih pada hidup, karena …Good? bad? Who knows?

Ketika pacar saya mencampakkan saya, rasanya sangat menderita. Namun kini saya bisa berkata, “Terima kasih banyak. Karena jika kamu tidak mencampakkanku, aku sudah menikah denganmu kini, punya anak, lalu cerai, dengan banyak cicilan dan tagihan. Menjadi gila seperti orang lain. Jadi terima kasih sudah mencampakkanku. Terima kasih banyak!”

Saya ingat ada orang yang pernah data ke Wihara Bodhinyana dan menceritakan kisah nyata yang mengubah hidupnya ini. Ia adalah seorang pengusaha Australia yang sedang melakukan perjalanan bisnis ke Mumbai, dan setelah menyelesaikan urusannya, ia berencana terbang ke Inggris. Ia memesan taksi dari hotelnya, “Antar saya ke bandara”.

Taksi itu membawanya ke bandara, namun salah jalan dan nyasar. Kadang para supir taksi ini, bahkan meski mereka bekerja di tengah kota, mereka sering tidak tahu jalan. Akibatnya taksinya kesasar, waktu makin mepet, pesawat segera terbang. Orang Australia ini makin lama makin cemas, kesal, bahkan marah, “Cepat antar saya ke bandara! Tanya polisi! Tanya siapapun! Pokoknya bawa saya ke sana secepat mungkin!”

Harapan terkahir yang ia punya adalah semoga pesawatnya ditunda terbang. Namun ketika sampai dibandara, ia bisa melihat pesawatnya sudah lepas landas, terbang ke angkasa, “Supir sialan! Aku ketinggalan pesawat!

Kemudian ia melihat pesawat itu mendadak turun lagi, lalu jatuh! Seluruh pengimpannya tewas! Ia menyaksikan itu.., termangu.., lalu berkata, “Aduuuh, terima kasih supir taksi!” Ia pun memberikan tip besar ke supir taksi itu. Namun ada sesuatu yang mengubah seluruh hidupnya.

Bagaimana Anda bisa begitu marah dan kritis terhadap hal yang tidak berjalan sesuai keiinginan Anda? Ini adalah falsafah indah mengenai kehidupan, yang berarti Anda tidak menjadi negatif sama sekali terhadap hidup, namun … Good? Bad? Who Knows? – Ajahn Brahm, Si Cacing dan kotoran kesayangannya 2!,2011: 175-177

Siapa yang tau itu sebuah berkah atau sebuah ujian, toh kita hanya perlu tersenyum dan menerimanya.

Iklan

Good People write good comments ..

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s